Gambaran Umum Wanagama Nusantara

Universitas Gadjah Mada (UGM) berkomitmen mendukung pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai Smart Forest City melalui kajian berbagai aspek, termasuk fisik, lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya. Melalui kolaborasi dengan OIKN dan mitra terkait, UGM merancang Wanagama Nusantara (WN) sebagai kawasan hutan pendidikan dan penelitian yang terintegrasi seluas 621 ha di Zona Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN. Wanagama Nusantara terbagi menjadi 8 zona, yaitu zona agro forestry, eco edu forest, ecotourism, healing forest, herbal medicine, hutan global, konservasi, dan miniatur hutan hujan tropis (Gambar 1).

Wanagama Nusantara merupakan salah satu areal di dalam rimba kota yang digunakan untuk pengembangan model restorasi hutan hujan tropis Kalimantan. Lokasi WN didominasi oleh hutan tanaman Eucalyptus pellita. Wanagama Nusantara dikembangkan sebagai living laboratory yang mengintegrasikan riset ilmiah, inovasi teknologi, dan praktik pengelolaan hutan berkelanjutan. Berbagai kegiatan telah berjalan melalui kolaborasi dengan OIKN dan mitra lainnya, termasuk pembangunan infrastruktur pendukung, fasilitas riset, serta pelaksanaan penelitian lintas disiplin.

Gambar 1. Peta Wanagama Nusantara

Visi:

Menjadi pusat unggulan global untuk pendidikan, penelitian, dan inovasi berbasis hutan tropis yang berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Misi:

  1. Mengembangkan riset lintas disiplin dalam bidang kehutanan, lingkungan, kesehatan, dan teknologi hijau. 

  2. Menjadi laboratorium hidup (living laboratory) bagi mahasiswa, peneliti, dan masyarakat

  3. Membangun destinasi wisata edukatif dan rekreatif yang berdaya tarik internasional

  4. Menjadi model hutan pendidikan yang produktif dan konservatif.

  5. Menyediakan ruang healing dan well-being untuk masyarakat urban IKN

Roadmap 30 Tahun Wanagama Nusantara

Prinsip Wanagama Nusantara

Windows of the World: Wanagama Nusantara adalah wujud komitmen Indonesia dalam Paris Agreement 2015 dan target IKN bebas emisi pada 2045. Namun lebih dari itu, kawasan ini dirancang sebagai "jendela dunia", tempat keanekaragaman hayati Indonesia berdampingan dengan flora dari berbagai belahan bumi, menjadikannya representasi kekayaan hayati global, bukan hanya lokal.
Tata Kelola yang Inklusif: Sebagai kota pintar dan berkelanjutan, IKN membutuhkan lebih dari sekadar infrastruktur digital yang mumpuni. Keberhasilannya bergantung pada tiga pilar: infrastruktur, tata kelola sosial-politik, dan kesiapan budaya masyarakat. Wanagama Nusantara mendorong kolaborasi lintas pemangku kepentingan dan literasi digital agar transformasi ini benar-benar melibatkan, bukan meninggalkan, masyarakat.
Restorasi Biodiversitas: Pembangunan kota mengancam flora dan fauna asli Kalimantan. Wanagama Nusantara hadir sebagai upaya restorasi sekaligus sumber daya untuk biomedicine dan etnofarmasi. Kekayaan hayati ini juga menjadi ruang belajar bagi masyarakat untuk lebih mengenal hutan hujan tropis dan pentingnya kelestariannya.

Prinsip ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan